Minggu, 25 September 2011

BACAAN DOA


BISMILLAHIR RAHMANIR RAHKHIM
DENGAN MENYEBUT NAMA ALLAH YANG MAHA PENGASIH
LAGI MAHA PENYAYANG

PUJI SYUKUR KAMI PANJATKAN KEHADIRATMU YA ALLAH, LIMPAHKAN RAHMAT DAN BARAKAHMU AGAR KAMI DAPAT MELAKSANAKAN SEGALA URUSAN DENGAN BAIK DAN LANCAR. 

*) YA ALLAH YA GHOFFUR, YA AZIZ  
-  JANGAN  ENGKAU HUKUM KAMI, JIKA KAMI LUPA ATAU KAMI MELAKUKAN KESALAHAN, YA ALLAH, TUHAN KAMI ,JANGAN ENGKAU BEBANI KAMI DENGAN BEBAN BERAT SEBAGAIMANA ENGKAU BEBANKAN KEPADA ORANG-ORANG SEBELUM KAMI, YA ALLAH, TUHAN KAMI, JANGANLAH ENGKAU PIKULKAN KEPADA KAMI APA YANG TIDAK SANGGUP KAMI MEMIKULNYA
- MAAFKANLAH KAMI, AMPUNILAH KAMI , RAHMATILLAH KAMI, ENGKAULAH PELINDUNG KAMI,  MAKA TOLONGLAH KAMI MENGHADAPI ORANG-ORANG KAFIR
- YA ALLAH TUHAN KAMI, AMPUNILLAH DOSA KAMI, ORANG TUA KAMI, GURU KAMI, SEMUA ORANG MUSLIM, SERTA SEMUA ORANG MUKMIN, SESUNGGUHNYA ENGKAU MAHA KUASA ATAS SEGALANYA
*) YA ALLAH YA ROKHMAN YA RAKHIM
- JANGANLAH ENGKAU SESATKAN HATI KAMI, SESUDAH KAMI MENDAPAT PETUNJUK,  BERILAH KAMI KARUNIA, KARENA ENGGKAULAH YANG MAHA PEMURAH
-YA ALLAH TUNJUKKANLAH YANG BENAR ITU BENAR, AGAR KAMI DAPAT MELAKUKANNYA, DAN TUNJUKKAN YANG SALAH ITU SALAH AGAR KAMI DAPAT MENGHINDARINYA,
-YA ALLAH BERIKANLAH KAMI KEBAHAGIAAN DI DUNIA DAN AKHIRAT SERTA HINDARKANLAH KAMI DARI SIKSA API NERAKA. 
*) YA ALLAH TUHAN SERU SEKALIAN ALAM
MAHA SUCI ENGKAU, TUHAN SEGALA KEMULIAAN, SUCI DARI SEGALA NYA, SEMOGA KESEJAHTERAAN ATAS PARA RASUL DAN SEGALA PUJI BAGI ALLAH SERU SEKALIAN ALAM.
YA ALLAH PERKENANKANLAH DOA KAMI, AMIN .

IKRAR HALAL BIL HALAL SMP 2 PATUK GK ( 8 DAN 10 SEPTEMBER 2011)


Bismillahirromanirrohim
Asyhadu alla ilaha ilallah
Waasyhadu anna Muhammadar Rasululloh

Dengan mengharap ridho dan ampunan Illahi, Kami yang hadir di tempat ini, Keluarga Besar SMP Negeri 2 Patuk, Gunungkidul,  Yogyakarta.

Berikrar

Dengan sesungguh hati, kami saling memaafkan khilaf dan dosa sesma kita, baik yang kami sengaja ataupun karena kelapaan kami, dan kami akan menjaga sifat amanah, fathonah, tabligh kepada Allah SWT. Semoga Allah memberi petunjuk, rahmat dan ampunan kepada kita.

Taqobbalallhu minaa wa minkum Taqobbal yaa Karim Minal “Aidin Wal Faizin Wal Maqbulin. Amin

Sepuluh Adab Sopan Santun Membaca Al-Qur'an

  1. Disunatkan membaca Al-Qur'an sesudah berwudhu (suci dan bersih). Kemudian mengambil Al-Qur'an hendaknya dengan tangan kanan dan memegangnya dengan kedua tangan.
  2. Hendaknya di tempat yang suci dan bersih, utamanya di masjid.
  3. Hendakya menghadap Qiblat, membacanya dengan khusyu' , tenang, berpakaian yang pantas dan menutup aurat.
  4. Mulut hendaknya bersih, disunatkan membersihkan mulut dan gigi terlebih dahulu.
  5. Sebelum membaca, hendaknya membaca Ta'awudz dan Basmallah, kecuali surat At Taubah, tanpa Basmallah. Sebelum membaca Ta'awudzdan Basmallah, dianjurkan membaca doa.
  6. Hendaknya dengan tartil yaitu dengan bacaan yang pelan, tenang, teliti, hati-hati, sareh/sabardengan kaidah tajwid.
  7. Hendaknya dengan penuh perhatian dan pemikiran tentang makna dan maksud ayat-ayat yang dibacanya serta penuh penjiwaan terhadap kejadian yang digambarkan oleh ayat tersebut, misalnya tentang surga, neraka, rahmat, rizki, kaum yang mendapat murka, kaum yang penuh kasih sayang, tentang hukum-hukum dan sebagainya serta melakukan sujud tilawah jika membaca ayat-ayat saidah misalnya.
  8. Disunatkan membaca Al-Qur'an dengan suara yang bagus dan indah (merdu).
  9. Sedapat-dapatnya, janganlah memutuskan membaca Al-Qur'an hanya karena hendak berbicara dengan orang lain, juga dilarang tertawa-tawa, sambil bermain-main dan semacamnya.
  10. Hendaknya memperhatikan tanda-tanda waqof dan ibtida', tanda-tanda baca, panjang pendek, dengung dan atau tidak dengung, serta semua kaidah ilmu tajwid lainnya.

Pentingnya Menghafal dan Memahami Al Quran

Al Quran diturunkan kepada Muhammad Rasulullah SAW selama 23 tahun masa kerasulan beliau. Al Quran di turunkan secara berangsur-angsur kepada Rasulullah SAW dengan perantaraan malaikat Jibril. Malaikat Jibril menurunkan Al Quran ke dalam hati Rasulullah dan beliaupun langsung memahaminya. Hal ini disebutkan dalam Al Quran surat Al Baqarah (2) : 97, yang artinya : 
Katakanlah: “Barang siapa yang menjadi musuh Jibril, maka Jibril itu telah menurunkannya (Al Quran) ke dalam hatimu dengan seizin Allah; membenarkan apa (kitab-kitab) yang sebelumnya dan menjadi petunjuk serta berita gembira bagi orang-orang yang beriman.”
Kemudian Rasulullah SAW mengajarkan Al Quran itu kepada para shahabatnya. Mereka menuliskannya di pelepah daun daun kering, batu, tulang dll. Pada saat itu belum ada kertas seperti zaman modern sekarang ini. Kemudian para shahabat langsung menghafalnya dan mengamalkannya. Demkian Al Qur;an di ajarkan kepada para shahabat-shahabat yang lain. Al Quran difahami dengan menghafal. Bukan dengan sekedar membaca.
Pada saat Rasulullah telah wafat, banyak terjadi peperangan. Dalam peperangan Yamamah misalnya , banyak para sahabat pemghafal Quran yang syahid. Melihat kondisi ini Umarpun meminta Abu bakar sebagai khalifah untuk membuat Mushaf Al Quran. Abu bakar sempat menolak. „ Apakah engkau meminta aku untuk melakukan apa yang Rasulullah tidak lakukan ?“ ujar beliau. Tapi dengan gigih Umar bin Khattab menjelaskan urgensinya pembuatan Mushaf bagi kepentingan kaum muslimin di masa yang datang. Akhirnya Abu Bakarpun dapat diyakinkan dan kemudian setuju dengan ide Umar bin Khattab.
Abu Bakarpun lalu meminta Zaid bin Haritsah untuk melakukan tugas ini. Zaid bin Haritsah pun sempat berkata : „ Apakah engkau meminta aku untuk melakukan apa yang Rasulullah tidak lakukan ?“. Tapi akhirnya Zaidpun setuju dan mulai mengumpulkan shahifah-sahhifah yang tersebar di tangan para shahabat yang lain. Batu, daun-daun kering, tulang dll itupun disimpan di rumah Hafsah.
Barulah pada zaman Khalifah Utsman bin Affan, Mushaf Al Quran selesai sebanyak 5 buah. Satu disimpan Utsman dan 4 yang lain disebar ke : Makkah, Syria, Basrah dan Kufah. Jadi pada saat itu para shahabat, tabi’it dan thabi’i tabiin mempelajari al Quran dengan menghafal karena jumlah Mushaf yang sangat sedikit.
Bagaimana dengan kondisi zaman sekarang? Bila kita perhatikan di sekitar kita, diantara teman-teman dan keluarga kita, ada berapa persen diantara mereka yang hafal Al Quran ? Berapa persen yang sedang menghafal Al Quran? Mungkin kita susah memberikan persentase karena dihitung dengan jari-jari tangan kita belum tentu genap semuanya.
Kaum muslimin saat ini masih cukup berpuas diri dengan membaca Mushaf Al Quran dan tidak memahami maknanya. Padahal membaca Al Quran baru langkah awal interaksi Al Quran. Al Quran sebagai petunjuk bagi kita tidak cukup dibaca tapi juga dihafal dan difahami.
Mungkin ada sebagian yang berkata mengapa perlu menghafal ? Tidakkah cukup dengan membaca Mushaf dan membaca tarjemahan ? Ternyata tidak cukup. Dengan menghafal Al Quran ada „rasa“ (atau zauk) yang diberikan Allah kepada hati kita. Rasa ini didapat karena ayat-ayat yang dibaca berulang-ulang. Pengulangan kalam-kalam suci itulah yang menjadi „makanan“ untuk hati. Dan sesuai dengan ayat di Al Baqarah : 97 diatas, Al Quran itu diturunkan di hati Nabi Muhammad. Bukan di akal fikiran beliau. Artinya Al Quran itu konsumsi/makanan hati bukan sekedar fikiran.
Rasa inilah yang menjadikan kita nikmat mengenal Allah, memahami kehendakNya dan ringan melaksanakan segala perintah dan menjauhi segala laranganNya. „ Rasa „ ini kurang ada juga sedikit ketika kita hanya membaca. Apalagi bila membacanya tidak diiringi dengan pemahaman artinya. Dan membaca tidak diulang-ulang. Efeknya sangat berbeda dengan mengulang-ulangnya.
Kaum muslimin saat ini cukup berpuas diri dengan membaca „buta“ Al Quran dan menimba ilmu dari para ustadz, kiai dan pemuka-pemuka agama. Tanpa menghilangkan rasa hormat kepada para penyampai-penyampai risalah agama, kita sebagai hamba Allah, secara individual juga mempunyai kewajiban berusaha memahami Al Quran dari aslinya langsung dari firman-firmanNya.
Bila kita menghafal dan mentadaburi Al Quran maka Allah akan mengajarkan kepada kita pengetahuan melalui hati kita dengan perantaraan ilham. Seperti yang difirmankan Allah SWT dalam surat Asy Syams ayat 8-10, yang artinya :
“Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya. Sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu, dan Sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya.“
Ilham ini dapat dirasakan dengan dalam hati kita. Bukankah kita pernah bingung tentang suatu masalah, kemudian pada suatu saat kita, „cling“ mememukan cara untuk menyelesaikan masalah dengan baik. Itulah ilham.
Atau ilham itu sebagai furqan atau pembeda mana-mana amal yang haq dan mana-man yang bathil. Sebagai misal ketika kita masuk ke tempat maksiat maka hati kita akan terasa tidak enak, tidak nyaman. Itulah peringatan dari hati kita yang bersih. Furqan inilah yang dibutuhkan di dalam kehidupan ketika berperang dengan bisikan-bisikan syaithan yang membujuk-bujuk kita untuk berbuat maksiat dengan iming-iming duniawi yang menggiurkan. Karena itu sangatlah kita memerlukan furqan yang menjadikan kita mantap mengetahui yang haq dan yang bathil. Seperti disebutkan oleh Allah Azza wa Jalla dalam surat Al Anfaal ayat 29, yang artinya :
Hai orang-orang beriman, jika kamu bertaqwa kepada Allah, Kami akan memberikan kepadamu Furqaan. dan Kami akan jauhkan dirimu dari kesalahan-kesalahanmu, dan mengampuni (dosa-dosa)mu. dan Allah mempunyai karunia yang besar.
Al Quran juga sebuah petunjuk/pedoman hidup bagi kita kaum muslimin :
Kitab (Al Quran) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertaqwa. (QS Al Baqarah : 2)
Jadi intinya Al Qu’an adalah pedoman hidup. Tapi hanya segelintir orang yang hafal dan faham Al Quran. Bagaimana Al Quran bisa menjadi pedoman hidup seorang muslim secara individual bila membaca dan memahaminya secara tuntas saja belum dilakukan ? Dan banyak diantara kaum muslimin yang meninggal dalam keadaan belum pernah membaca dengan tuntas Al Quran.
Bayangkan apabila kita akan pergi ke puncak Gunung Semeru. Sebelum pergi kita dibekali dengan peta, rambu-rambu dan petunjuk-petunjuk oleh seorang pendaki gunung profesional. Tetapi kita tidak memahami petunjuk-petunjuk tersebut. Apakah kita dijamin akan sampai di puncak gunung semeru dengan selamat ? Kita mungkin lebih senang bertanya dengan penduduk setempat. Bila kita bertemu dengan penduduk yang sangat kenal gunung semeru mungkin kita akan sampai dengan selamat. Tetapi bila orang kita tanya juga kurang faham jalan ke puncak gunung, akankah kita sampai ke puncak dengan selamat atau mungkin kita bisa tersesat ? Padahal bila kita memahami, petunjuk, peta dan juga bertanya maka kita akan mendapat jalan pintas untuk sampai ke puncak gunung.
Memang solusi pemahaman Al Quran ini tidak akan dapat berhasil bila sistem pendidikan agama tidak berjalan intensif sejak dini. Sebagai permisalan, bahasa Inggris diajarkan sejak SD. Maka kita lihat ketika lulus SMA para mahasiswa sudah bisa belajat dari diktat berbahas Inggris. Bila sistem ini diterpakan juga untuk bahasa Arab (sebagai media inti pemahaman Al Quran) maka ketika berumur 20-25 seorang muslim sudah mulai bisa memahami Al Quran dengan mandiri.
Wahai saudara-saudaraku kaum muslimin, memahami Al Quran bukan fardhu kifayah yang dibebankan kepada ulama, kiai atau ustadz. Tapi seperti dicontohkan oleh para sahabat, membaca, menghafal, memahami dan melaksanakan Al Quran dilakukan sebagai kewajiban indivial setiap kaum muslimin. Bila secara individu seorang muslim meningkat kualitasnya, keluarga yang dibinanya juga akan berkulaitas sehingga akhirnya sebuah masyarakat madani yang dirindukan selama ini juga dapat terwujud.
Demikianlah renungan kita tentang Al Quran. Semoga Allah memberikan taufik dan hidayahNya kepada kita semua sehingga kita menjadi orang-orang yang mencintai Al Quran, membacanya, menghafalkannya, memahaminya dan mengamalkannya

Menengok kembali sejarah SMP 2 Patuk GK

SMP 2 Patuk berdiri tahun1961, mula pertama bernama ST Geologi, kemudian pada tahun 1975, beralih nama menjadi SMP Putat. Keadaan, sekolahan nya sangat sederhana, bangunan yang non permanen. Hari berganti tahun dan beberapa tahun berikutnya, menjadi dua bagian seperti saat ini, yaitu berubah menjadi SMP 2 dan SMP 3 Negeri GK, dengan kepala sekolah, guru serta siswa yang berbeda. Pada saat, penulis mulai aktif mengajar kira-kira tahun 2002, SMP 2 PATUK dipimpin oleh Ibu Dra.Wiwik, satu tahun kemudian digantikan Bapak Drs.Suryo Kardono, kemudian digantikan Bapak Drs. Suparto selain  menjadi kepala sekolah, beliau juga mengajar pendidikan agama Islam, namun sayang belum lama ini di tahun 2010 beliau harus pindah tugas di SMP 2 Wonosari.  Sekarang  tahun ajaran 2011/2012 awal 1 juni 2011, Alhamdulillah, pucuk pimpinan berada ditangan bapak Drs. Gunawan. Mudah-mudahan dengan kepemimpinan beliau Allah juga senantiasa tetap selalu memberikan taufiq dan hidayah sehingga SMP 2 Patuk tetap maju bahkan lebih bagus lagi mencerdaskan anak bangsa serta menjadikan sekolahan yang agamis taat ibadah. amin.
Kabar Lain , baru saja pada tanggal 7 dan 8 September yang lalu, SMP 2 Patuk telah maju Akreditasi Sekolah, dengan dua  asessor Pengawas Depag dan Diknas dari Kulonprogoi , Alhamdulillah pula atas izin 
dan rahmat Allah SWT,kita mudah melaksanakan dengan persiapan dan dukungan semua pihak. Mudah-mudahan mendapatkan hasil yang sangat memuaskan dengan nilai A.  
Selain itu, pada tanggal yang sama, 8 September 2011 yang lalu juga diadakan syawalan dengan siswa-siswa SMP 2 Patuk, dan Puncak acara syawalan sekaligus syukuran , serta perpisahan bapak Teguh  (karyawan) adalah Sabtu, 10 September 2011 jam 10.0-selesai dengan menghadirkan pembicara bapak Drs.H. Isa (guru PAI  SMPN Nglipar)  . Acara ini dihadiri juga para mahasiswa KKN-2- UNY yang diketuai  Lutfiah  . Alhamdulillah Lacar Amin.
Berita berikunya, Pada beberapa hari yang lalu , Senin, 19 September 2011, siswa-siswa kita telah mencoba bertarung dalam acara tahun yaitu MTQ tingkat Kecamatan Patuk. Sebanyak 17 personel, mencoba kemampuannya antara lain :
NO JENIS  KEJUARAAN NAMA TEMPAT/TGL LAHIR KELAS
1 MTQ / Pi LAISA NASTA'IN GK, 21 FEB 1998  9B
2 Mtar /Pi INDRI ASTUTI GK, 15 AGUST 1996 9B
3 Mtar /Pa NURUL MA'ARIF GK, 19 AGUST 1999 7A
4 MHQ / Pi RAHAYU NUR JANNAH GK, 17 JAN 1998 8C
5 MHQ / Pa RANDI NUGROHO GK, 13 JAN 1997 8C
6 CCA NURIKA ANGGRAINI GK, 12 DES 1996 9A
7 CCA PARYATI PURWANTINAH GK, 4 JULI 1996 9A
8 CCA RIDWAN KURNIAWAN GK, 15 JULI 1998 8C
9 MAdzan NENDI DWI INDARTO GK, 2 SEPT 1998 8A
10 MSQ ALIFIA PRISNA RAMADHANTY KALBAR, 19 DES 1997 9B
11 MSQ WAHYU IGA ERFINA GK, 28 OKT 1996 9B
12 MSQ FAATIKA AULIYYA AMRI GK,7 JUNI 1999 8C
13 KHUTBAH JUM'AT GAMA ALDIYANTO GK, 17 OKT 1996 9A
14 PIDATO / Pi EVI SAPUTRI GK, 21 FEB 1998 8B
15 PIDATO / Pa RENDY KURNIA ADHITAMA GK.30 0KT 1996 9B
16 KALIGRAFI /Pi EVA DWI NOER KHOLIMAH GK, 4 APRIL 1997 8B
17 KALIGRAFI /Pa JATI ANUGERAH SAPUTRA BANTUL, 14 JAN 1997 8C          

  Namun dari seluruhnya, yang baru berhasil adalah : MTQ putri juara 3, MSQ juara 2, CCA juara 2, adzan juara 1, Pidato putra juara 1, dan juara 1 lagi pidato purtri. Selamat ya. Kemudian Para juara khususnya juara 1 akan terus bertanding MTQ tingkat kabupaten. Insyaallah tanggal 5 oktober 2011 semoga sukses. amin. semoga lancar dan mohon dukungannya dengan doa . Trimakasih.
 

Jumat, 23 September 2011

Kiat Mengisi Waktu Pagi

Kiat Pertama: Membaca Al Qur’an dan memahami maknanya
Saudaraku, isilah waktu pagimu dengan membaca Al Qur’an. Waktu pagi adalah waktu masih fit seseorang beraktivitas. Maka bagus sekali jika seseorang memanfaatkannya untuk membaca dan mentadaburi Al Qur’an.
Ingatlah bahwa Al Qur’an nanti bisa memberi syafa’at bagi kita di hari yang penuh kesulitan pada hari kiamat kelak. Dari Abu Umamah Al Bahiliy, (beliau berkata), “Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Bacalah Al Qur’an karena Al Qur’an akan datang pada hari kiamat nanti sebagai syafi’ (pemberi syafa’at) bagi yang membacanya. Bacalah Az Zahrowain (dua surat cahaya) yaitu surat Al Baqarah dan Ali Imran karena keduanya datang pada hari kiamat nanti seperti dua awan atau seperti dua cahaya sinar matahari atau seperti dua ekor burung yang membentangkan sayapnya (bersambung satu dengan yang lainnya), keduanya akan menjadi pembela bagi yang rajin membaca dua surat tersebut. Bacalah pula surat Al Baqarah. Mengambil surat tersebut adalah suatu keberkahan dan meninggalkannya akan mendapat penyesalan. Para tukang sihir tidak mungkin menghafalnya.” (HR. Muslim no. 1910. Lihat penjelasan hadits ini secara lengkap di At Taisir bi Syarhi Al Jami’ Ash Shogir, Al Munawi, 1/388, Asy Syamilah)
Lebih baik lagi selain membaca kita dapat memahami makna/tafsirnya melalui kitab-kitab tafsir seperti tafsir Ibnu Katsir dan tafsir As Sa’di yang penuh dengan banyak faedah di dalamnya. Keutamaan memahami tafsir Al Qur’an dapat dilihat pada hadits berikut ini.
Dari Abu Musa Al Asy’ariy, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda
“Permisalan orang yang membaca Al Qur’an dan mengamalkannya adalah bagaikan buah utrujah, rasa dan baunya enak. Orang mukmin yang tidak membaca Al Qur’an dan mengamalkannya adalah bagaikan buah kurma, rasanya enak namun tidak beraroma. Orang munafik yang membaca Al Qur’an adalah bagaikan royhanah, baunya menyenangkan namun rasanya pahit. Dan orang munafik yang tidak membaca Al Qur’an bagaikan hanzholah, rasa dan baunya pahit dan tidak enak.” (HR. Bukhari no. 5059)
Kiat Kedua: Mengulang Hafalan Al Qur’an
Bagi yang memiliki hafalan Al Qur’an juga dapat mengisi waktu paginya dengan mengulangi hafalan karena waktu pagi adalah waktu terbaik untuk menghafal dibanding dengan waktu siang yang penuh dengan kesibukan. Di antara keutamaan menghafal Al Qur’an terdapat dalam hadits berikut.
Dari Abdullah bin ‘Amr, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Dikatakan kepada orang yang membaca (menghafalkan) Al Qur’an nanti : ‘Bacalah dan naiklah serta tartillah sebagaimana engkau di dunia mentartilnya. Karena kedudukanmu adalah pada akhir ayat yang engkau baca (hafal).” (HR. Abu Daud no. 1464 dan Tirmidzi no. 2914. Syaikh Al Albani dalam As Silsilah Ash Shohihah no. 2240 mengatakan bahwa hadits ini shohih)
Yang dimaksudkan dengan ‘membaca’ dalam hadits ini adalah menghafalkan Al Qur’an. Perhatikanlah perkataan Syaikh Al Albani berikut dalam As Silsilah Ash Shohihah no. 2440.
“Ketahuilah bahwa yang dimaksudkan dengan shohibul qur’an (orang yang membaca Al Qur’an) di sini adalah orang yang menghafalkannya dari hati sanubari. Sebagaimana hal ini ditafsirkan berdasarkan sabda beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam yang lain, ‘Suatu kaum akan dipimpin oleh orang yang paling menghafal Kitabullah (Al Qur’an).’
Kedudukan yang bertingkat-tingkat di surga nanti tergantung dari banyaknya hafalan seseorang di dunia dan bukan tergantung pada banyak bacaannya saat ini, sebagaimana hal ini banyak disalahpahami banyak orang. Inilah keutamaan yang nampak bagi seorang yang menghafalkan Al Qur’an, namun dengan syarat hal ini dilakukan untuk mengharap wajah Allah semata dan bukan untuk mengharapkan dunia, dirham dan dinar. Ingatlah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda,
“Kebanyakan orang munafik di tengah-tengah umatku adalah qurro’uha (yang menghafalkan Al Qur’an dengan niat yang jelek).” (HR. Ahmad, sanadnya hasan sebagaimana dikatakan oleh Syaikh Syu’aib Al Arnauth).” [Makna qurro’uha di sini adalah salah satu makna yang disebutkan oleh Al Manawi dalam Faidhul Qodir Syarh Al Jami’ Ash Shogir, 2/102 (Maktabah Syamilah)]
Bagi yang sudah memiliki banyak hafalan, ikatlah hafalan tersebut dengan banyak mengulanginya. Dari Abdullah bin ‘Umar, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Sesungguhnya orang yang menghafalkan Al Qur’an adalah bagaikan unta yang diikat. Jika diikat, unta itu tidak akan lari. Dan apabila dibiarkan tanpa diikat, maka dia akan pergi.” (HR. Bukhari no. 5031 dan Muslim no. 789).
Dalam riwayat Muslim yang lain terdapat tambahan,
”Apabila orang yang menghafal Al Qur’an membacanya di waktu malam dan siang hari, dia akan mengingatnya. Namun jika dia tidak melakukan demikian, maka dia akan lupa.” (HR. Muslim no. 789)
Al Faqih Syaikh Muhammad bin Sholih Al Utsaimin memiliki kebiasaan menghafal Al Qur’an di pagi hari sehingga bisa menguatkan hafalannya. Beliau rahimahullah mengatakan,
“Cara yang paling bagus untuk menghafalkan Al Qur’an -menurutku- adalah jika seseorang pada suatu hari menghafalkan beberapa ayat maka hendaklah dia mengulanginya pada keesokan paginya. Ini lebih akan banyak menolongnya untuk menguasai apa yang telah dia hafalkan di hari sebelumnya. Ini juga adalah kebiasaan yang biasa saya lakukan dan menghasilkan hafalan yang bagus.” (Kitabul ‘Ilmi, hal. 105, Darul Itqon Al Iskandariyah)
Kiat Ketiga: Membaca Dzikir-dzikir Pagi
Waktu pagi juga bisa diisi dengan membaca dzikir-dzikir pagi. Bacaan dzikir di waktu pagi secara lebih lengkap dapat dilihat dalam kitab Hisnul Muslim yang disusun oleh Syaikh Sa’id bin Wahf Al Qohthoni.
Di antara dzikir di pagi hari yang mudah untuk kita baca adalah bacaan istigfar.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Tidaklah aku berada di pagi hari (antara terbit fajar hingga terbit matahari, pen) kecuali aku telah beristigfar pada Allah sebanyak 100 kali.” (HR. An Nasa’i. Dishohihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Silsilah Ash Shohihah no. 1600. Lihat Al Mu’jam Al Awsath lith Thobroniy, 8/432, Asy Syamilah)
Dan bacaan istigfar yang paling sempurna adalah sebagaimana yang terdapat dalam shohih Al Bukhari dari Syaddad bin Aus radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda, “Penghulu istigfar adalah apabila engkau mengucapkan,
“Ya Allah! Engkau adalah Rabbku, tidak ada Tuhan yang berhak disembah kecuali Engkau. Engkaulah yang menciptakanku. Aku adalah hamba-Mu. Aku akan setia pada perjanjianku dengan-Mu semampuku. Aku berlindung kepada-Mu dari kejelekan yang kuperbuat. Aku mengakui nikmat-Mu kepadaku dan aku mengakui dosaku, oleh karena itu, ampunilah aku. Sesungguhnya tiada yang mengampuni dosa kecuali Engkau.” (HR. Bukhari no. 6306)
Faedah dari bacaan ini adalah sebagaimana yang Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sabdakan dari lanjutan hadits di atas, “Barangsiapa mengucapkannya pada siang hari dan meyakininya, lalu dia mati pada hari itu sebelum waktu sore, maka dia termasuk penghuni surga. Dan barangsiapa mengucapkannya pada malam hari dalam keadaan meyakininya, lalu dia mati sebelum waktu pagi, maka dia termasuk penghuni surga.”
Bacaan sayyidul istigfar ini meliputi makna taubat dan terdapat pula hak-hak keimanan. Di dalam bacaan ini juga terkandung kemurnian ibadah dan kesempurnaan ketundukan serta perasaan sangat butuh kepada Allah. Sehingga bacaan dzikir ini melebihi bacaan istigfar lainnya karena keutamaan yang dimilikinya.
Juga bacaan sederhana yang bisa kita baca adalah dengan membaca surat Al Ikhlas, Al Falaq dan An Naas masing-masing 3x. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Membaca Qul huwallahu ahad (surat Al Ikhlas) dan Al Muwa’idzatain (surat Al Falaq dan An Naas) ketika sore dan pagi hari sebanyak tiga kali akan mencukupkanmu dari segala sesuatu).” (HR. Abu Daud no. 5082. Syaikh Al Albani dalam Shohih wa Dho’if Sunan Abi Daud mengatakan bahwa hadits ini hasan)
–Semoga kita termasuk orang yang selalu merutinkannya di setiap pagi dan sore-
Kiat Keempat: Menuntut ilmu agama
Waktu pagi juga bisa kita isi dengan mempelajari ilmu agama. Hal ini bisa kita lakukan dengan menghadiri majelis ilmu atau dengan membaca berbagai kitab para ulama.
Nafi’ telah bertanya kepada Ibnu Umar tentang sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,
“Ya Allah, berkahilah umatku di waktu paginya.”
Ibnu Umar menjawab, “Dalam menuntut ilmu dan shaf pertama.” (Atsar ini diriwayatkan oleh Ibnu ‘Abdil Barr dalam Al Jami’ li Akhlaqir Rawi wa Aadabis Sami’, 1 /150 dan As-Sam’aany dalam Adabul Imla’ wal Istimla’, 1/129)
Semoga kita termasuk orang-orang yang mengisi waktu pagi dengan hal-hal yang bermanfaat.
Alhamdulillah, berakhir pula tulisan kami mengenai waktu pagi, yang kami sajikan dalam lima seri tulisan. Mudah-mudahan buku ini bisa diterbitkan sehingga bermanfaat luas bagi kaum muslimin.
Semoga Allah selalu memberikan ilmu yang bermanfaat, rizki yang thoyib, dan menjadikan amalan kita diterima di sisi-Nya.
Innahu sami’un qoriibum mujibud da’awaat. Alhamdulillahilladzi bi ni’matihi tatimmush sholihaat, wa shallallahu ‘ala nabiyyina Muhammad wa ‘ala alihi wa shohbihi wa sallam.
Selesai disusun di Pondok Sahabat, Pogung Kidul
Di pagi hari yang penuh barokah, 19 Rojab 1429 H
bertepatan dengan 22 Juli 2008
Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal
Sumber Artikel:
http://www.rumaysho.com/belajar-islam/amalan/2739-kiat-kiat-mengisi-waktu-pagi.html

Cara Allah SWT Mengawasi

Karena takut didatangi pencuri, maka warga suatu perumahan menyewa penjaga atau hansip. Tetapi terkadang pencurian masih terjadi walau hansip sudah dibayar. Hal ini bisa terjadi bila hansip tersebut lengah atau ketiduran, sehingga si pencuri bisa melakukan aksinya. Hansip juga manusia!
Bagaimana dengan Yang Maha Mengetahui? Allah SWT mengawasi manusia 24 jam sehari atau setiap detik tidak ada lengah. Di dalam melakukan pengawasan, ada 3 cara yang dilakukan Allah SWT :
Allah SWT melakukan pengawasan secara langsung. Tidak tanggung-tanggung, Yang Menciptakan kita selalu bersama dengan kita dimanapun dan kapanpun saja. Bila kita bertiga, maka Dia yang keempat. Bila kita berlima, maka Dia yang keenam (QS. Al Mujadilah 7). Bahkan Allah SWT teramat dekat dengan kita yaitu lebih dekat dari urat leher kita.“Dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya.” (QS. Qaaf 16).
Allah SWT melakukan pengawasan melalui malaikat. Sebagaimana firman Allah SWT dalam Surat Qaff ayat 17, yang artinya : “ketika dua orang malaikat mencatat amal perbuatannya, seorang duduk di sebelah kanan dan yang lain duduk di sebelah kiri.” Kedua malaikat ini akan mencatat segala amal perbuatan kita yang baik maupun yang buruk; yang besar maupun yang kecil. Tidak ada yang tertinggal. Catatan tersebut kemudian dibukukan dan diserahkan kepada kita (QS. Al Kahfi 49).
Allah SWT melakukan pengawasan melalui diri kita sendiri. Ketika kelak nanti meninggal maka anggota tubuh kita seperti tangan dan kaki akan menjadi saksi bagi kita. Kita tidak akan memiliki kontrol terhadap anggota tubuh tersebut untuk memberikan kesaksian sebenarnya. Sebagaimana firman Allah SWT dalam Surat Yasin ayat 65, yang artinya : “Pada hari ini Kami tutup mulut mereka; dan berkatalah kepada Kami tangan mereka dan memberi kesaksianlah kaki mereka terhadap apa yang dahulu mereka usahakan.”
        Kesimpulannya, kita hidup tidak akan bisa terlepas dimanapun dan kapanpun saja dari pengawasan Allah SWT. Tidak ada waktu untuk berbuat maksiyat. Tidak ada tempat untuk mengingkari Allah SWT. Yakinlah bahwa perbuatan sekecil apapun akan tercatat dan akan dipertanyakan oleh Allah SWT dihari perhitungan kelak.